Rumah Ilmu

Rumah Hikmah Ikhwanul Mustafa 

Tentang Kami

Buku adalah jendela dunia. Buku adalah anak tangga menuju kebaikan. Kami ingin mengajak sebanyak mungkin orang untuk membaca sebanyak mungkin buku dengan sebanyak mungkin cara.

 

Karena itu kami membangun perpustakaan di Buttulamba, Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar di Sulawesi Barat. Semoga bisa menjadi tempat yang menyenangkan bagi siapa saja untuk mencerap pengetahuan dari buku-buku yang kami sediakan, khususnya bagi anak-anak di masa perkembangan emasnya, para pelajar, maupun mereka yang mendedikasikan hidupnya untuk terus-menerus belajar. Ke depannya, kami akan membuka Rumah Ilmu sebagai tempat berbagi pengetahuan, diskusi buku, diskusi film, atau sekedar minum kopi bersama seraya membincang tentang buku dan kehidupan.

 

Saat ini kami memiliki sekitar 6000-an buku hardcopy dan lebih dari 20.000-an buku elektronik. Kami sedang menyiapkan infrastruktur agar buku-buku tersebut bisa diakses dengan mudah. Buku hardcopy akan disimpan di Perpustakaan Rumah Ilmu, akronim dari Rumah Hikmah Ikhwanul Mustafa, yang gedungnya saat ini sedang dalam tahap pembangunan; berlokasi di dusun Buttulamba, Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sementara itu, untuk buku elektronik, saat ini sudah tersimpan di Cloud dan sedang dibuatkan infrastrukturnya untuk akses di masa mendatang. Katalog buku Rumah Ilmu, khususnya hardcopy, bisa dilihat di menu Katalog.

 

Kami berharap bahwa di Rumah Ilmu semua pengunjung bisa membaca:

"Janganlah kamu membaca seperti anak kecil yang membaca untuk hiburan. Jangan juga kamu membaca seperti kutu buku, hanya untuk mendapatkan pelajaran. Bacalah untuk mengubah hidupmu!.

Kita (harusnya) membaca untuk mengubah hidup kita. Untuk menjadi petunjuk dalam hidup kita. Untuk menjadi pegangan dalam hidup kita." (KH. Jalaluddin Rakhmat)

"Saya pilih menjadi orang miskin yang tinggal di pondok penuh buku daripada menjadi raja yang tak punya hasrat untuk membaca" (Thomas B. Macaulay)

Pengkhidmat

Sewaktu masih SD di sebuah desa terpencil di Polewali Mandar, sering mencuri-curi masuk perpustakaan sekolah yang kenyataannya dikunci berbulan-bulan, yang dibuka hanya ketika akan dibersihkan. Di dalam ruangan itu dia membaca buku-buku cerita rakyat dan pengetahuan alam. Tak jarang dia juga mencuri pinjam beberapa hari buku yang tebal, dan dikembalikannya juga dengan sembunyi-sembunyi. 

Sewaktu di SMP dan SMA, dia menghabiskan waktu istirahat sekolah di perpustakaan, untuk membaca buku dan mengerjakan PR. Karena rumahnya belum ada listrik, dia memang malas mengerjakan PR di rumah. Tapi ada hal lain, dia agak malu bergaul dengan teman-temannya yang memang kebanyakan akan berhambur ke kantin ketika jam istirahat. Terus terangnya, dia tidak punya modal ke kantin. Itu alasan utamanya dia memilih perpustakaan sebagai tempat yang enak dan gratis, bisa membaca buku pula.

Kalau kebetulan ada rejeki lagi, yang menjadi belanja rutinnya adalah membeli buku. Sekarang mukim di Balikpapan.

Rahmaniah Hamzah

Mengikuti Ayahnya yang berpindah-pindah tugas, pernah bermukim di hampir semua penjuru Sulawesi Selatan. Setelah menikah, ia mengikuti suaminya sehingga pernah berpindah-pindah lagi di beberapa tempat di Indonesia. 

 

Sebagai seorang dokter, dia senang dengan pekerjaannya karena bisa membantu banyak orang. Tetapi dia juga sangat senang bermain-main dengan kembang. Ketika suaminya mengutarakan niatnya untuk membangun Rumah Ilmu yang jauh dari keramaian seperti tempat tinggalnya selama ini, dia langsung mendukung. 

 

Sekarang menekuni kesukaan dengan aglonema.

"Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas" (Mohammad Hatta)